Archive for the ‘Uncategorized’ category

Polygon Xtrada 6

January 5, 2017


Sepeda, sebelumnya tidak menjadi prioritas tahun ini. Tapi, mengingat kebutuhan untuk mencari kesenangan dan keringetan, akhirnya Selasa, 3 Januari 2017, saya memantapkan diri untuk membeli sepeda.
Awalnya, saya sempat review beberapa sepeda. Karena ini masih sangat awal, saya hanya melihat beberapa jenis sepeda yang ringan di kantong, namun tetap berkualitas. Nama Polygon yang sudah akrab di telinga, akhirnya saya jadikan pilihan.

Melihat kebutuhan yang hanya butuh senang dan keringat untuk membakar kalori, saya memastikan akan membeli sepeda hybrid yang harapannya bisa digunakan di jalan raya, atau bisa sesekali ke medan agak berat di jalan tak rata.

Polygon Heist 2.0 sudah saya dapatkan. Profile sepedanya juga sudah lumayan menarik. Tampilan juga cukup enak di pandang. Hari Senin, saya belanja bulanan di C4 BSD. Sekalian melihat-lihat sepeda incaran. Namun, sesampainya di bagian sepeda, bukan Heist yang menjadi tumpuan penglihatan saya. Malah sepeda gunung (MTB) Polygon Xtrada 6 yang membuat kepincut. Selain warnanya sesuai (hitam), tampilannya jauh lebih gagah dan sangar dibanding Heist.

Sepulangnya dari C4, saya niatkan untuk mereview Xtrada 6 sebagai pilihan. Dan akhirnya, keesokan harinya memantapkan untuk membeli Polygon Xtrada 6.

Begitu sampai di rumah, tak menunggu lama, saya sudah menggowes Xtrada meluncur sejauh 8 km di sekitar rumah. Setelah 10 tahun tidak sepedaan, sore itu langsung terasa pegal-pegal dan pantat yang sakit. Memang sadel sepeda jaman skarang tidak user friendly. 🙂

Advertisements

Akhir Tahun 2016

December 31, 2016

Batujajar, 07.00 WIB, 31 Dec 2016

Ciater, 14.00 WIB, 30 Dec 2016

Wordpress Mobile

October 8, 2016

Baru nyobain wordpress mobile dari Android.


Sekian, terima kasih.

My Blog Is Back…!!!

February 15, 2015

Bukan. Ini bukan kembalinya saya ke kancah blogging. Atau saya ingin aktif lagi untuk ngeblog yang memang trend sesaat itu.Tapi lebih pada kembalinya keseluruhan blog ini secara utuh.

Jadi ceritanya begini.

Sekitar beberapa bulan silam, saya iseng menengok blog gratisan di wordpress ini, karena sudah tak tau lagi mau ngapain di internet. Saat itu rupanya blog ini di-suspend. Alasan pastinya saya juga gak tau. Tapi saat itu saya berpikir account di suspend karena saya gak pernah aktif lagi di sini.

Yaa sudahlah. Saat itu sih cuma kepikiran pasrah aja. Lagian, blog ini cuma back up aja koq. Yang utama masih ada di domain utama.

Nah, setelah sekian lama blog di wordpress ini suspended, saya menemukan lagi saat saya harus iseng membuka web-web gak penting. Dan akhirnya mampir ke domain utama saya. Dan kali ini lebih mengagetkan lagi. Domain ini pun sudah tidak bisa dibuka. Keliatannya karena masalah hosting. Memang, udah lama saya gak pernah maintenance hosting di sana. Sementara untuk domain sendiri masih aman lah. Karena saya masih rajin perpanjang.

Ok. Masalah hosting juga sebenarnya tidak saya pikirin. Nanti tinggal cari hosting baru. Cuma yang jadi ganjelan adalah arsip blog saya yang pada waktu jayanya sudah menjadi ajang menuangkan pikiran dalam tulisan. Mungkin ada puluhan atau lebih banyak lagi, judul blog yang sudah saya tulis dari awal tahun 2000-an. Dan saya tidak punya back up-nya. Punya sih, tapi lupa simpan di mana.. 🙂

Kemarin, sabtu pagi saya iseng kpikiran untuk membuka kembali lembaran suspended blog saya di wordpress. Dan kepikiran mau tanya ke supportnya. Email pun saya kirimkan. Dan, responnya lumayan mengagetkan. Cepat, dan yang pasti langsung menyelesaikan masalah.

Sinkat cerita, akhirnya blog ini hidup lagi. Lengkap dengan seluruh tulisan saya jaman baheula.

[edisi-pemburu-bebek] Ginyo

August 13, 2013
Kebetulan melancong ke daerah Selatan Jakarta, pemburu berniat melampiaskan rasa laparnya kepada unggas berinisial B. Ketik keyword ‘bebek’ di Sygic, keluarlah Nasi Bebek Ginyo. Alamat-nya sekitaran Tebet Utara Dalam.
 
Pilih Navigate, aplikasi GPS di tablet Cina ini menuntun pemburu menuju lokasi makan siang.
 
Sepinya Jakarta, membuat pemburu tak memerlukan waktu lama untuk tiba di lokasi. Nyaris tanpa hambatan berarti.
 
Sygic telah mengakhiri tuntunannya. Jejeran mobil terpakir nyaris memakan badan jalan. Pemburu harus berjalan melewati TKP untuk mencari lahan kosong. Mungkin karena bertepatan dengan jam makan siang para pekerja rodi yang gagal cuti.
 
Berjalan sedikit masuk area resto, pemburu sudah dipaksa ikut antri dari parkiran depan. Wogh, ini apaan sih, pake model antri mengular kayak mau ambil sembako?
 
Sengatan matahari nyaris meluluhkan niat pemburu untuk ikut antri bersama muka-muka lapar para pemburu lain. Tapi, berhubung udah niat mau coba si Ginyo, pemburu terus bergerilya jalan perlahan menuju meja hidangan.
 
Nasib buruk kembali datang. Tak jauh lagi dari lokasi magic jar, ada issue dari depan bahwa bebek habis. Bah! Apes.
 
Tanya petugas setempat, bebek sebenarnya belum habis, tapi stock masih dalam perjalanan. Blah, sama aja kali, Tong.
 
Berita baiknya, katanya gak lebih satu jam, bebek akan datang. Hmm, satu jam menunggu. Worth it gak yaa?
 
Tapi emang kadung udah niat, pemburu langsung masuk ke ruang ber-AC, dan memesan minum. Pantang mundur menunggu bebek.
Lagi-lagi kecewa mendera. Gak bisa pesen dari meja. Harus antri. Huh, mending gak minum deh. Karena harus antri ulang lagi antri dari parkiran. Cuma untuk segelas minum.
 
Satu jam ternyata gak terlalu lama juga. Mungkin karena ditemani Wifi gratisan untuk junk di sana dan junk di sini.
 
Gak sampe satu jam, yang ditunggu pun tiba. Bebek sudah siap di meja hidang.
Tapi, yaa harus antri lagi. Edunz juga, dari tadi antrian gak juga habis. Tak apalah, karena aroma begor udah masuk ke lubang napas pemburu. Sedikit motivasi dalam beban berat antrian ini.
 
Ambil nasi secukupnya, pilih bebek kremes sebagai menu utama. Kaget juga ngeliat ukuran bebek di sini. Mungkin 2 kali lipat ukuran bebek slamet, atau 3 kali lipat ukuran bebek kaleyo versi hemat.
 
Pilih-pilih lalapan segar, plus sambel dengan aroma yang menyegarkan. Langsung menuju kasir.
Rp 79.000,- untuk 2 porsi bebek+lalapan+sambal+es teh manis. Yaa, lalapan dan sambal dikenakan biaya. *najong*.
 
Masih kagum dengan ukuran bebeknya, pemburu membolak-balik dada jumbo ini. Mikir, mau hajar dari sebelah mana.
 
Suapan pertama. Datar. Suapan kedua, masih datar.
Lho, mana rasa bebeknya? Ini sama sekali gak berasa bebek. Cuma dominan rasa gurih dari kremes yang menyatu dengan tepung.
 
Pemburu blusukan ke arah daging murni di dalam sana. Yang langsung menempel dengan tulang. Hasilnya, tetep datar.
 
Pemburu hanya merasakan ini layaknya daging ayam biasa. Nyaris tak terasa unik bebeknya. Ah, mungkin karena pemburu terlalu sering merengguk kenikmatan bersama Bebek Slamet.

Minggu Ini

October 2, 2011

Nissan Livina sudah mengajukan klaim atas sedikit kecelakaan tersenggol tembok, di Bandung. Tanggal 1 Oktober 2011, akan mulai menjalani rawat inap di TB Simatupang. Sebenarnya masih ada kerusakan yang tidak sempat di klaim karena belum terpikirkan untuk menjadikan semua luka itu menjadi satu kejadian. Namun, berkat kejadian Kamis kemarin, lengkaplah penambahan satu klaim lagi untuk sisi kanan.

Pagi yang cerah di Lebak Bulus, dalam kemacetan luar biasa menuju Pondok Indah, ada motor yang harus berciuman dengan bemper depan. Malamnya, dalam kepadatan lampu merah Santa, sebuah Terano dengan beringas menyundul bemper belakang. Kisah buku The Secret yang mengatakan bahwa apa yang ada dipikiran kita bisa terjadi, terbukti sudah.

Memang selama masa tunggu mobil untuk diopname, perbaikan kecil sisi kanan, selalu terpikir untuk ‘skalian’ memperbaiki goresan di sisi kiri. Hanya karena goresannya sangat halus, terpaksa niat itu diurungkan sambil ‘menunggu’ luka berikutnya. Dan, terjadilah dua kecelakaan Kamis tadi. Akhirnya, Sabtu kemarin sukses klaim sekalian untuk perbaikan semua sisi Livina. Target pengerjaan 8 atau 9 hari kerja. Sekitar 2 minggu.

Selama masa mobil rawat inap, transportasi akan selalu diwakilkan Honda Tiger. Motor yang ‘nyaris’ terlupakan di carport, kini kembali menjadi media utama mobilitas selama dua minggu ke depan.

Minggu pagi persiapan mulai dilakukan. Lebih dari lima bulan motor ini tidak pernah merasakan elusan langsung sang empunya untuk dimandikan. Dibiarkan dijamah orang lain, dengan uang jasa tujuh ribu rupiah sampai bersih.

Karet footstep yang hilang entah ke mana sejak dua minggu lalu, harus segera di pasang gantinya. Setelah kelar mencuci, langsung meluncur ke bengkel-bengkel pilihan. Sayang, niat baik yang sebenarnya sudah dilakukan sejak seminggu lalu, masih belum berhasil. Tidak ada satupun bengkel di kawasan Pamulang yang menyediakan stok karet footstep original.

Terpaksa pulang dengan tangan kosong. Melenggang penuh kecewa, malah berakhir fatal. Kecerobohan di atas motor, menghasilkan kerugian berikutnya. Saat akan membuka pagar, tak disadari standar motor tidak pada posisi sesungguhnya. Jatuhlah si tiger ke sisi samping. Sukses memecahkan spion kiri.

Ujungnya, siang panas minggu ini harus diisi lagi dengan mengendarai motor ke bengkel untuk mencari pengganti spion. Sial masih belum pergi. Dari semua bengkel di sini, tidak ada yang menyediakan kaca spion tiger revo baru.

Jadilah besok berkendara motor tanpa spion kiri dan karet footstep.

Sepatu Safety Kings

April 11, 2010

Sepatu Kings akhirnya dateng sminggu lalu.
Barang yang gue pesen beberapa hari sebelumnya itu di-bandrol seharga Rp. 320.000,- untuk nomor 43.

Warna hitam, model tinggi di atas mata kaki, dengan sreting sebagai perekat.

Karena baru hari ini naik motor, baru bisa dicoba untuk menjejakkan kaki di sepatu, yang menjuluki diri sepatu safety, comfort model.

Pertama kali memasukkan kaki indah ini di sepatu tersebut, sudah disulitkan dengan sereting kecil yang seret. Saking kecilnya, gue khawatir mematahkan sereting itu pada pemakaian pertama.

Kedua sepatu terpasang. Pijak bumi serasa lebih berat dari sebelumnya. Gak aneh, dengan kulit tebal, ukuran besar, dan tinggi sepatu yang di atas rata-rata, sepatu ini lumayan memberatkan ke dua kaki gue untuk melangkah.

Kini giliran mencoba Kings pada fungsi yang sesungguhnya. Ride My Bike.

Masuk gigi 1, rasa nyaman dan aman mulai menggelayut di hati. Senyum riang, hati senang, dan penuh kenang, menyelimut raga ini.

Tapi ini gak berlangsung lama. Bagian atas sepatu yang lumayan keras, mulai sering beradu dengan betis. Gesekan bertubi-tubi ini jelas bukan keadaan yang mengenakkan. Perlahan tapi pasti, betis gue mulai terasa ngilu. Kaki mulai gak nyaman sepanjang jalan. Rasa aman teredam gesekan yang sama sekali gak nikmat.

Perjalanan yang menyakitkan.

Gue jadi kangen sepatu Tomkins yang udah lama tergantung di rak sepatu. Tinggal menunggu waktu untuk gue lempar ke tong sampah, hanya karena bagian depan kiri mulai menganga. Kelelahan menerjang badai air, panas aspal, dan debu jalan selama 3 tahun.

Sepatu Kings gak layak dibandingkan dengan Tomkins. Yang pas di kaki, nyaman dipijak, dan rasa aman yang tak kalah hebat.

Pada pemakaian pertama, tak lebih dari 20 menit, spatu Kings sudah mengecewakan. Sux!

*bungkus Kings*