Archive for the ‘BlogMe’ category

Cek Awal

October 9, 2016

4 minggu.

MMC Jakarta, 08 10 2016

Advertisements

Ciujung, Tujuh Tiga Puluh Pagi

November 7, 2009

Saya kurang tahu pasti apa yang menjadi latar belakang Ciujung dijadikan nama kereta listrik untuk jalur Serpong-Tanah Abang. Yang pasti, nama Ciujung menjadi penting, karena keberadaannya telah memberi warna tersendiri dalam kisah hidup saya. Kereta yang disebut dengan kelas ekonomi AC ini, sudah menjadi alat transportasi utama sehari-hari. Melepaskan identitas ‘biker’ yang pernah melekat selama beberapa tahun terakhir.

Dengan jarak rumah dan kantor yang tidak bisa dibilang dekat, saya nyaris ‘tobat’ dari dunia roda dua sebagai transportasi andalan. Pinggang pegal, tangan ngilu, stress macet, dan sumpah serapah kepada pengendara angkot, mulai saya lupakan. Sekitaran bulan Maret 2009, saya melirik transportasi publik yang berjalan di rel. Mencoba beberapa kereta dan beberapa jadwal, akhirnya saya konsisten di KRL Ciujung pagi yang berangkat pukul 07.30, dari stasiun Sudimara. Pulangnya, masih bervariasi. Tergantung selesainya pekerjaan kantor. Namun, rata-rata masih sering menggunakan Ciujung malam.
(more…)

Nostalgia Kereta Listrik Jakarta – Bogor

August 31, 2008

Sejak akhir 2001, setelah lulus kuliah, nyaris saya tak pernah lagi menggunakan jasa transportasi KRL Jakarta – Bogor. Transportasi umum yang diandalkan karena kecepatan waktu tempuhnya (bebas macet), daya angkut yang lebih banyak, juga harga yang murah untuk membeli tiketnya. KRL ini dulu menjadi angkutan sehari-hari saya dari rumah ke kampus yang berada di bilangan Depok. Dengan rumah saya berada di Jakarta Timur, KRL memang menjadi pilihan yang paling pas.

Selain fitur standar yang ditawarkan KRL, banyak sekali kenangan yang teringat selama menggunakan transportasi rakyat tersebut. Dari kenangan lucu, sedih, romantis, senang, dan pengalaman lain yang tak terlupakan hingga kini.

Hari ini kebetulan saya melakukan ritual rutin pada kendaraan saya di bengkel yang berada di sekitaran Lenteng Agung. Dan, pada waktu yang sama, saya juga harus ke kantor untuk sedikit keperluan. Kantor saya berada di Patung Tani, dekat stasiun Gondangdia. Dengan kondisi ini, angkutan umum yang paling pas adalah dengan naik kereta. Selain agar waktu lebih cepat, juga untuk membangkitkan kembali kenangan lama jaman kuliah dulu. 🙂
(more…)

Keberuntungan Itu Datang

August 24, 2008

Sabtu 23 Agustus 2008, sebuah lembaga keuangan tempat saya mencari nafkah, mengadakan acara outing di lokasi yang terkenal dengan kesejukan udaranya. Rumah Cisarua, jalan raya Puncak, Bogor.

Awalnya, saya sempat ragu dengan keikutsertaan saya pada acara ini. Alsannnya, hampir semua rekan team dalam satu unit kerja saya tidak ikut serta. Rata-rata mereka menyesalkan rencana acara outing yang nyaris seperti team buliding. Persyaratan barang bawaan pun terasa memberatkan. Well, ini pun sempat terlintas dalam pikiran saya. Karena yang ada di otak saya, outing itu harusnya menikmati suasana alam, hiburan, relax, dan menikmati minuman segar sambil dipijit. heiahiehai..
Tapi, berhubung saya terlanjur niat sejak awal untuk ikut. Sendiri pun saya jalani. Toh masih banyak rekan unit lain yang masih bisa saya ‘gauli’. 🙂

Berangkat dari kantor sekitar pukul 8.00, tiba di lokasi sekitar pukul 10.00. Sampai di sana, langsung disuguhkan kopi hangat dan pembagian kaos outing. Dan acara pun siap dimulai.

Berbagai permainan mengalir dengan serunya. Permainan yang ditawari EO lumayan menarik. Jauh dari perkiraan sebelumnya. Hampir semua anggota kelompok aktif mengikuti. Dan hasilnya, kelompok saya meraih juara II. Tentu dengan pengorbanan badan yang pegal-pegal karena banyak aktifitas fisik dalam permainan ini.

Selain permainan kelompok, ada selipan undian doorprize. Hadiahnya pun bervariasi. Dari DVD player, kipas angin, sampai mesin cuci dan kulkas. Dari awal, saya berpikir bahwa saya tidak akan mendapat barang-barang tersebut. Karena memang, seumur hidup tidak pernah mendapatkankannya.

Sampai saat itu, saya berpikir bahwa keberuntungan saya bukan berasal dari undian doorprize. Harus ada usaha untuk mendapatkan segala sesuatunya. Dan memang terbukti, dua kali outing sebelumnya, saya tidak pernah mendapat undian doorprize. Tapi selalu mendapat peringkat pertama untuk lomba kelompok.

Tapi kali ini berbeda. Selain kelompok saya meraih juara II, tanpa diperkirakan, nomor undian saya menjadi nomor yang paling beruntung hari itu. Hadiah grandprize akhirnya bisa saya bawa pulang. 🙂

Bagi yang percaya akan faktor keberuntungan, tentu ini jadi tanda tanya besar. Apakah keberuntungan -dan kesialan- itu juga tidak selamanya milik beberapa orang saja? Apakah bisa berpindah ke orang lain yang sebelumnya tidak memilikinya? Atau ini akan jadi titik balik akan keberuntungan seseorang?

“Popularity and Glamour are only part of the factors involved in winning elections. One of the most important of all is luck. In my case, luck was always with meâ€?
– Harry Truman (mantan Presiden United States) –

Mie Ayam Asun

April 11, 2008

Pagi ini, suasana cerah menyelimuti Selatan Jakarta. Macet dan asap kendaraan menjadi menu yang tak terelakkan. Tentu dengan raungan klakson dan permainan gas dari beberapa kendaraan yang tak kuat menahan depresi lalu lintas Jakarta.

Seperti biasa, seakan tak mengindahkan suasana tersebut, bersama belahan jiwa kerap mencari pilihan sarapan pagi. Setiap hari silih berganti. Variasi yang menjadi keharusan untuk jiwa yang funky.

Tersebutlah tempat makan di bilangan Menteng Jakarta Pusat. Sebuah tempat penjual mie ayam biasa mangkal setiap harinya. Produk mie yang beberapa kali dibahas di stasiun televisi. Beberapa forum di internet pun tak ketinggalan membahas makanan ini.

Mie Ayam Asun. Konon kabarnya, nama Asun diambil dari daerah asal si penjual. Asun singkatan dari Anak Sunda.
Sebenarnya lokasi yang berada di trotoar depan Sekolah Theresia ini, selalu saya lalui dalam perjalanan dari rumah ke kantor. Rasa ingin mencoba pun selalu terlintas sesaat. Namun, keberuntungan baru saya dapatkan ketika pagi ini sudah mati gaya dengan menu sarapan yang ada.

Selintas, hampir tak ada tempat parkir yang memadai di area ini. Tapi jangan khawatir, pinggir-pinggir batasan trotoar sudah ditetapkan sebagai tempat parkir oleh sekelompok orang di sana.

Tiba saatnya mencari tempat duduk dan pemesanan. Tempat duduk seadanya disediakan penjual. Walau hanya satu kursi memanjang di bawah pohon rindang, suasana nyaman tak lepas dari tempat itu. Dengan menyebutkan jumlah pemesanan, sang penjual dengan segera meracik hidangan hangat tersebut.

Rupanya, SLA dari Mie Ayam Asun ini patut diacungi jempol. Hanya hitungan menit, semangkuk mie ayam sudah sampai di tangan saya. Entah karena masih pagi dan sepi, atau memang biasa seperti itu. Yang jelas, saya puas dengan cepatnya penyajian.

Tampilan satu porsi tidak ada yang istimewa. Sama seperti kebanyakan mie ayam. Terdiri dari mie, ayam, 2 baso, 2 pangsit goreng, dan seledri. Dengan mangkuk bergambar ayam, 2 sumpit merah, plus piring plastik penahan panas. Semuanya masih standar penjualan mie ayam.

Suapan pertama, puluhan lembar mie langsung melesak kedalam mulut saya. Hmmm, rasanya… Standar! Yeah rite, rasanya masih standar.
Mie ayam yang digembor-gembor memiliki rasa anak sunda ini, ternyata tidak berbeda jauh dengan mie ayam lainnya. Walaupun tidak bernilai minus, tapi juga tidak lebih lezat. Masih kalah jauh dengan mie ayam 4848 di bilangan Kwitang. Ada kemiripan rasa dengan mie ayam di Kebun Sirih. Walaupun masih lebih enak daripada mie ayam Nanang yang rasanya semakin sucks!

Kini, semangkuk mie sudah berpindah kedalam perut. Nyaris tidak ada rasa kenyang. Yup, selain rasanya yang standar, porsinya pun tidak terlalu banyak. Kalah jauh dibanding porsi mie ayam Nanang yang sampai memenuhi mangkuknya. Walau rasanya tetap sucks!

Tiba saatnya perhitungan serius dengan si penjual. Sang belahan jiwa bertanya,” Berapa, Bang?”.
“Sepuluh ribu, Mbak”, jawab si penjual. “Heh?!” gumam saya.. 🙂

Weh, dengan porsi yang sedikit, rasa standar, dan tempat yang seadanya, harga 10 ribu kurang pas untuk dibandrol pada mangkuk mie ayam itu.
Hanya cepat saji yang menarik untuk diberi nilai positif.

Depresi

March 16, 2008

Pernah ngerasa depresi? Tertekan? Stress berlebihan?
Disebabkan karena berbagai hal, depresi sangat mudah datang pada setiap insan manusia. Penyebabnya pun relatif berbeda. Tergantung kekuatan mental dan pengalaman dari sang individu dalam menjalankan hidupnya. Beberapa masalah yang timbul pada satu individu bisa menjadi beban yang berat pada dirinya. Namun, masalah yang sama belum tentu menjadi beban bagi orang lain.

Melihat keberagaman ini, seharusnya satu individu bisa belajar banyak dari individu lainnya. Semakin banyak belajar, semakin kuat individu tersebut menghadapi setiap masalah yang menimbulkan depresi. Tapi ternyata, tidak semua individu mampu menangkap pelajaran ini. Walau kadang pelajaran yang ada sudah di depan mata. Rasa cuek, ketidakmengertian, sampai rasa enggan yang dalam kadang mempengaruhi individu itu untuk tidak belajar.

Rasa penyesalan akan datang dikemudian hari. Biasanya setelah depresi itu sudah datang, dan semua terasa terlambat. Apakah ini terjadi pada semua individu? Atau hanya terjadi pada individu-individu yang bisa dibilang bodoh dalam menyikapi hidupnya sendiri?

Terlalu dini untuk menyimpulkan. Tapi juga akan sangat terlambat bila setiap individu harus mengakui kebodohannya setelah semua masalah terjadi. Ketika depresi sudah menyelimuti dirinya. Sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Bahkan, tindakannya pun sudah tidak bisa dibilang wajar. Tanda kegilaan diujung mata. Cepat atau lambat, semuanya malah akan menimbulkan effect negative yang lebih besar.

Sulit memang, untuk bisa mengerti kenapa semuanya bisa terjadi. Bahkan bisa terjadi berulang tanpa kita bisa mengambil pelajaran dari masalah sebelumnya. Yaa, bila dilihat dari hidup, beberapa orang akan berkata,�Itulah hidup!� Gak akan ada hidup yang sempurna. Semua masalah akan menjadi bumbu dalam kehidupan. Tapi tidak terasa cerdas bila selalu berpikir begitu. Pikiran harus dikembangkan. Strategi harus diubah. Kebiasaan lama yang negatif harus disingkirkan. Lihat sekeliling! Banyak banget pelajaran yang bisa diambil dari setiap segi kehidupan. Sekecil apapun.

Kita tak pernah tahu ilmu yang begerlimpangan di sekeliling kita akan menjadi modal yang sangat berharga di kehidupan kita ke depan. Jadi, jangan pernah meremehkan apapun dalam hidup ini. Peduli akan sekitar. Tangkap semua ilmu di sekeliling. Dan jadikan setiap desah napas kita untuk belajar berbagai hal demi kehidupan yang lebih baik.

Tentang Puasa 1428H

October 12, 2007
  • Alhamdulillah, sampai puasa terakhir ini belum batal. At least, makan dan minum.. 😉
  • Sahur rutin antara pukul 03.30 – 04.00 WIB.
  • Setelah sahur, disempatkan tidur sampai pukul 06.30. Kecuali hari libur, sampai waktu yang tidak terbatas.
  • Buka puasa hanya beberapa kali di rumah. Awal-awal hari puasa aja. Selebihnya, di kantor atau di jalan dengan makanan seadanya. Gorengan + lontong, kolak, mie ayam, atau kadang donat dan hokben, pas ada yang traktir. 😉
  • Hanya beberapa kali buka puasa bersama. Banyak waktu yang gak pas pada saat undangan bukber berdatangan.
  • Kerja masih seperti biasa. Gak ada yang istimewa selain disediakan tempat tidur yang nyaman pada jam istirahat.
  • Weekend, lebih sering keluar rumah. Badan terasa lemas bila hanya bermalas-malasan di rumah.
  • Niat libur nge’bengkel gak berhasil. Minggu terakhir puasa, malah harus ke bengkel untuk mengganti gearset. Hari itu menjadi puasa terberat selama sebulan, dehidrasi terhebat yang pernah dialami.
  • THR terbesar yang pernah didapat pada tanggal 28 September 2007. *bwhahahaha.. ada yang ngiri*
  • Menjual gadget kesayangan (Blueangel – SX66) pada tanggal 8 Oktober 2007, setelah membeli gadget pengganti (Universal – Exec) pada tanggal 25 September 2007.
  • Apa lagi yaa? *masih mungkin ditambahken*