Nostalgia Kereta Listrik Jakarta – Bogor

Sejak akhir 2001, setelah lulus kuliah, nyaris saya tak pernah lagi menggunakan jasa transportasi KRL Jakarta – Bogor. Transportasi umum yang diandalkan karena kecepatan waktu tempuhnya (bebas macet), daya angkut yang lebih banyak, juga harga yang murah untuk membeli tiketnya. KRL ini dulu menjadi angkutan sehari-hari saya dari rumah ke kampus yang berada di bilangan Depok. Dengan rumah saya berada di Jakarta Timur, KRL memang menjadi pilihan yang paling pas.

Selain fitur standar yang ditawarkan KRL, banyak sekali kenangan yang teringat selama menggunakan transportasi rakyat tersebut. Dari kenangan lucu, sedih, romantis, senang, dan pengalaman lain yang tak terlupakan hingga kini.

Hari ini kebetulan saya melakukan ritual rutin pada kendaraan saya di bengkel yang berada di sekitaran Lenteng Agung. Dan, pada waktu yang sama, saya juga harus ke kantor untuk sedikit keperluan. Kantor saya berada di Patung Tani, dekat stasiun Gondangdia. Dengan kondisi ini, angkutan umum yang paling pas adalah dengan naik kereta. Selain agar waktu lebih cepat, juga untuk membangkitkan kembali kenangan lama jaman kuliah dulu. 🙂

Sampai di stasiun Tanjung Barat, suasana kental sebuah stasiun masih terlukis jelas. Selain beberapa calon penumpang, petugas penjaga karcis, ada beberapa pedagang kaki lima yang berjajar di sepanjang sisi stasiun. Yang menarik, dulu saya beberapa kali mendapat update lagu-lagu baru justru dari pedagang kaset/CD yang ada di stasiun. Termasuk beberapa pengamen yang hilir mudik di dalam kereta. Kadang, dari lagu yang mereka putar atau mainkan, saya tertarik dengan beberapa lagu yang tidak saya kenal sebelumnya. Biasanya, saya tanyakan teman sebelah saya, atau langsung ke pedagangnya. Dari situ, baru saya cari kasetnya untuk koleksi.. hihihi

Train

Menunggu sekitar 15 menit, akhirnya kereta yang dinanti tiba. Hmm, hari Sabtu seperti ini ternyata penumpang kereta tetap penuh. Namun, masih jauh lebih lega dibanding jam-jam pergi dan pulang kantor di hari biasa. Saya mengalaminya selama lebih dari satu tahun. Pasalnya, saya sudah bekerja sebelum lulus. Dan dengan posisi kantor dan kampus yang berada pada jalur kereta, penggunaan jasa kereta listrik terasa lebih efisien. Penuh dan berjubelnya penumpang pada jam pulang kantor, sangat tidak bisa ditolerir. Benar-benar angkutan yang tidak nyaman. Hanya kecepatan waktu tempuh yang saya harapkan waktu itu. Nyaris setiap kali saya berada di dalam kereta, saya selalu berjanji untuk tidak naik kereta lagi. Tapi lucunya, besok hari, saya kembali naik kereta itu. Dan seterusnya.. Hehehe

Baru dua stasiun saya lewati, Pasar Minggu dan Pasar Minggu Baru, kereta yang saya tumpangi harus berhenti lama. Kejadian yang juga sering saya alami dahulu. Mungkin, bila tidak ada sesuatu yang penting, saya hanya mengumpat karena pegal berdiri dengan gerah yang amat sangat. Sama seperti yang saya alami hari ini. Tapi dulu kadang berbeda. Pernah saya harus mengumpat lebih keras karena ada test yang harus saya ikuti dengan waktu yang tinggal sebentar lagi. Atau karena janji dengan teman untuk urusan penting. Kadang saya harus turun dan berganti bis, bila belum ada tanda-tanda kereta akan jalan dalam waktu dekat.

Beruntung hari ini kereta ‘hanya’ tertahan sekitar 15 menit. Cukuplah untuk mengeluarkan peluh dari pori-pori kulit. Saya turun di Gondangdia dengan mengira-ngira stasiun yang sudah dilalui. Walaupun harus berpikir keras, saya berhasil mengingat urutan stasiun sepanjang Tanjung Barat sampai Gondangdia. Dulu, saya sangat hapal urutan stasiun dari Jakarta Kota sampai Bogor. Termasuk perkiraan waktu tiba di setiap stasiunnya. Well, dengan aktivitas bolak balik setiap hari, pastilah urutan ini akan dihapal dengan sendirianya.

Setelah urusan kantor selesai, saya kembali naik kereta api untuk balik ke bengkel. Kali ini, di stasiun Gondangdia, saya harus menunggu lama. Mungkin lebih dari setengah jam. Di waktu menunggu ini, saya melihat kerumunan mahasiswa yang juga ikut menunggu kereta. Tawa dan canda keluar dari obrolan mereka. Nyaris sama dengan yang saya alami hampir 10 tahun yang lalu. Cerita lucu, celaan bocor, atau saling caci pernah saya alami bersama kawan-kawan kampus. Kadang sambil bermain remi bila kereta malam yang kami naiki masih lama tiba di stasiun. Saling cela dan canda ini juga berlanjut di dalam kereta. Sehingga kadang perjalanan menjadi terasa menyenangkan dan tidak terasa jauh.

Kereta dari Jakarta Kota sudah datang. Sekarang penumpang kereta jauh lebih padat dari berangkat tadi. Mungkin karena jeda waktu yang panjang, sehingga penumpang sampai membludak. Pada saat ini, tentu sudah menjadi rahasia umum, banyak yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Nyaris semua penumpang –yang merasa bukan copet-, berusaha melindungi barang-barang miliknya sambil berdesakan. Dan, kecurigaan satu sama lain yang belum kenal pasti terjadi. Yaa, siapa sih yang tidak mau aman pada kondisi tersebut. Alhamdulillah, hingga kini, saya belum pernah mengalami kejadian buruk, dicopet.

Kali ini saya turun di Stasiun Lenteng Agung, dengan selamat. Ah, nostalgia berkereta yang menarik.

Explore posts in the same categories: BlogMe

4 Comments on “Nostalgia Kereta Listrik Jakarta – Bogor”

  1. Ridwan Farid Says:

    semoga ini sebagai tonggak Untuk sarana transportasi yang lebih baik lagi…terutama dalam pengaturannya


  2. kenangan sy juga tuh mas…kapan yah qt bisa punya kereta seperti di negara2 maju yah ??????

  3. mynelliz Says:

    iya sih, dicopet nggak pernah, tapi sekalinya kena hypnotize :p

  4. hafiz Jizmi Says:

    Namanya Juga KRL Ekonomi Pak, UdaH MuraH, PeLayanan & Kenyamanan KonsumEn JuGa TeraBaikan HeeeHeee…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: