Minggu Pagi Di Komplek Rumah

Kata olahraga sudah hampir punah dalam kamus hidup saya. Lebih dari dua tahun seluruh tubuh ini nyaris tidak pernah digerakkan atas nama olahraga. Hanya goyangan santai pada dua tangan dan beberapa kali goyangan kepala saya lakukan sebelum berangkat ke kantor. Waktunya, tak lebih dari lima menit.

Sebelumnya, dua tahun silam, saya sempat rutin melakukan olah raga pagi di Monas atau Senayan. Berangkat dari rumah pukul 5 pagi, masih cukup waktu untuk berputar-putar sambil menghirup udara segar. Tapi, selama dua tahun belakangan, saya hampir tak pernah lagi memiliki semangat untuk melakukan aktivitas menyehatkan itu.

Saat ini, saya sudah pindah rumah ke daerah Pamulang. Komplek yang saya tinggali kebetulan memiliki suasana yang pas untuk melanjutkan olah raga yang terputus. Setiap minggu pagi, akses jalan dari gerbang komplek sampai mesjid ujung jalan, dengan jarak hampir 5 km, selalu dipenuhi oleh warga komplek dan penduduk sekitar yang ingin menikmati kesegaran dan kesejukan udara di sini.

l1
l1a

Selain orang tua dan anak-anak, mayoritas orang yang berolah raga adalah kaum muda dan remaja. Pantaslah, mungkin bagi mereka, selain berolahraga, tempat ini bisa dijadikan ajang kumpul dan cuci mata di pagi hari. Pasalnya, di sisi-sisi jalan, di mana taman dan rumput hijau menghiasi, banyak tempat-tempat asik untuk bercengkrama. Para penjaja makanan dan minuman tak ketinggalan, siap melayani siapa saja yang membutuhkan sarapan pagi, atau memuaskan dahaga selepas ber-olah raga.

l2

Minggu ini, saya bangun lebih pagi. Maklumlah, biasanya di hari libur, saya selalu memanjakan diri dengan bangun agak siang. Pukul 5.30 saya sudah siap dengan segenap pakaian olah raga. Berjalan sedikit ke gerbang cluster, saya memulai pemanasan kecil. Di depan sport centre, sudah banyak orang yang memulai olah raga lebih pagi. Baik yang jogging massal, atau bermain tenis.

jogging
tennis

Saya mulai berlari ke arah gerbang luar kompleks. Kebetulan cluster saya berada di tengah jalan yang menjadi pusat kegiatan. Jadi, dengan mulai berlari ke arah luar komplek, akan terasa pas dengan mengakhiri lari di ujung jalan arah baliknya.

Lebih dari 1 km, saya berlari ke arah taman sebelum pintu gerbang. Berhenti sesaat, dan melanjutkan lari balik arah menuju ujung jalan. Saya terus berlari sampai taman berikutnya. Fiuh, napas yang tak beraturan harus saya rasakan. Maklumlah, ini minggu pertama berolahraga, setelah lama vakum. Saluran napas agak kaget menerima gerakan tubuh berlari dengan jarak agak panjang. Sambil menunggu napas stabil, saya berjalan-jalan kecil di sepanjang taman.

Setelah agak stabil, saya berjalan menyusuri jalan yang sudah dipenuhi orang. Beberapa ratus meter dari ujung jalan, ada pasar kaget yang memang hanya ada di minggu pagi. Puluhan pedagang menawarkan barang dagangannya. Dari pakaian, perlengkapan rumah tangga, kendaraan, sampai pohon hias dan kepingan DVD lengkap dipajang di sana. Bahkan ada pula yang rela memboyong alat elektronik seperti televisi, home stereo, dan mesin cuci elektrik, demi mengejar pembeli yang terlihat memenuhi nilai pasar.

l3

Di antara kerumunan penjual dan pembeli, saya menyempatkan menengok satu gelar dagangan kaus oblong. Dengan mengeluarkan kocek 25.000 rupiah, saya mendapatkan tiga potong kaus putih polos. Ah, lumayan!

l4

Sampai di ujung jalan depan mesjid, saya berhenti untuk membeli bubur ayam. Sambil menikmati minuman gratis yang disediakan warga untuk yang berolah raga di sana. Bubur seharga 3,500 ini berhasil membuat saya ketagihan. Tak pelak, tambahan satu mangkuk lagi harus saya utarakan pada penjualnya. Mungkin karena tenaga yang terbuang untuk lari pagi, membuat perut saya terasa kurang untuk terisi hanya satu mangkuk bubur saja. hihihi…

l5

Puas dengan dua mangkuk bubur, menikmati waktu istirahat, saya kembali berjalan menuju kolam renang. Tadinya saya ingin melanjutkan aktivitas olah raga kali ini dengan berenang. Tapi, dengan badan yang sudah agak lelah, saya urungkan niat itu. Mungkin minggu depan. Bila berlari sudah tidak terlalu melelahkan. πŸ˜‰

Explore posts in the same categories: Rumah

9 Comments on “Minggu Pagi Di Komplek Rumah”

  1. TmT Says:

    waks….bos…dapat fee berapa marketingin perumahan nih ? πŸ˜€ kok skrinsut rumah sendiri ga ada nih? πŸ˜€

  2. shemut Says:

    ach elo mah emang gembul bey.. πŸ™‚
    olahraga ga olahraga sama aja..:D

  3. yudhabs Says:

    Iya mas, olahraga itu sangat penting. Ketimbang menyesal di kemudian hari ketika penyakit datang bagai curah hujan..:D

  4. warga Says:

    mas,
    mau tanya nih, masih ada rumah yang di jual nggak yah?
    sepertinya kalau diliat di foto2, kompleksnya enak juga yah

  5. Miftah Says:

    Salam Kenal…

    baca ini jadi kangen rumah viladago yg udah hampir 2 tahun kutinggalkan nih… πŸ™‚

  6. aRdho Says:

    heyaah akhirnya elu disitu toh. kenapa kita kagak kopdar yak πŸ˜€

  7. jo Says:

    boleh tau alamat perumahannya ngga

  8. mynelliz Says:

    olah raga ni yee…xixixixi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: