Archive for July 2007

Tentang Angka 7 (TUJUH)

July 27, 2007

Tepat tanggal 7 (TUJUH) April 2007 (dua ribu TUJUH), gue memesan sebuah rumah di daerah Pamulang. Sekitar 27 (dua TUJUH) km dari pusat kota Jakarta. Pilih-pilih blok, jatuh pilihan pada blok E 7 (TUJUH) di sebuah cluster yang paling dekat dari kantor pemasaran. Kenal perumahan ini, dari seorang teman di HTML. Kebetulan, gue juga anggota HTML bersticker 077 (kosong TUJUH-TUJUH).

Segera mengajukan KPR, dan 7 (TUJUH) hari kemudian disetujui. Mulai tanggal 17 (TUJUH belas) April 2007, rumah mulai dibangun. Setiap tanggal 17 (TUJUH belas) setiap bulannya, gue harus membayar cicilan uang muka rumah sebesar 7 (TUJUH) juta sekian. Mulai berkuranglah tabungan gue selama 7 (TUJUH) tahun bekerja.

Setelah beberapa bulan masa pembangunan, tepat hari ini, tanggal 27 (dua TUJUH) bulan 7 (TUJUH) tahun 2007, gue melakukan akad kredit. Jumlah kreditnya dominan angka 7 (TUJUH). Setiap bulannya akan didebet langsung dari rekening tabungan yang baru dibuat tanggal 17 (TUJUH belas) kemarin. Tapi sayang, sudah lebih dari 7 (TUJUH) hari ATM-nya belum jadi juga.

Advertisements

Komputer Tua Bisu

July 14, 2007

Lebih dari seminggu gue gak bisa mainan komputer di rumah. Setiap gue nyalain, cuma mampu menampilkan gambar jendela depan, lalu sekarat dengan error message kesalahan pada software atau hardware bla bla bla…

Awalnya gue pikir ini masalah klasik pada hardisk yang memang udah mati segan hidup tak mau. Hardisk ini juga gue pake cuma buat eksperimen kecil-kecilan. Jadi, kalo sesekali mati, wajar aja kali yee…

Ganti hardisk akhirnya gue lakuin. Tentu dengan hardisk yang original merk-nya, terjamin mutunya, dan banyak debunya. Terakhir gue pake hardisk ini, gak ada cacat sedikitpun. OS juga sudah terinstall dengan rapi.
Tapi sayang, dengan hardisk ini pun, komputer gue masih aja sekarat dengan error message yang gak jelas tadi. Ciri khas windows lah yaa.. 😉

DEMN, berarti bukan hardisk. Gw mulai cari-cari kambing hitam lain. Yang paling ada motif adalah power supply dan memory. Pasalnya, dua benda itu punya kisah kelam masa lalu yang membuat gue pusing mikirin nasib hidup kompi tua renta ini saat itu.

Copot sana, copot sini. Bongkar sana, bongkar sini. Colek sana colek sini. Hasilnya selalu nihil. Mungkin bukan dua benda ini kali yaa. Secara gue masih bisa ke safe mode untuk sekedar ngeliat gambar buram, warna gak menarik, dan resolusi layar yang lebih kecil dari ponsel sekali pun. Berbeda dengan kisah dulu yang sama sekali gak mau nyala.

Hmm, perhatian gue beralih ke OS-nya. Coba ah, instal ulang! Maka, dengan sedikit semangat membara – udah jam 1-an -, sambil menahan kantuk karena seharian melotot di kantor, gw instal ulang jendelanya. Tapi malang nasibkuh malam ini. Instalasi gak mampu meneruskan proses pada titik 35%. Sepuluh kali ulang, tetep aja stuck di angka itu. Sebenarnya, kalo aja terhenti pada angka 68%, gue akan sedikit berbahagia. Tapi.. ah, sudahlah..

Gue harus cari kambing hitam lagi nih. Hmmm…., hardisk bukan, memory bukan, power supply bukan, OS juga bukan. Tinggal processor, soundcard, atau VGA?
Processor kayaknya susah untuk di-test. Lha, gimana ngetesnya? Trus, VGA kayaknya enggak juga. Monitor masih jelas menampilkan suasana dan isi komputer gue. Berarti tinggal soundcard.

Cari obeng kecil, putar ke kiri beberapa kali, dan lepas kabel audio. Hengkanglah souncard live! 5.1 ini dari slot PCI. Restart komputer, Jrenngg.. hilang semua message error tadi, instalasi windows juga berjalan lancar. Akhirnya, ketauan juga biang keladinya.

Dengan sedih, gue hempaskan soundcard yang sudah melayani gue 5 tahun lebih dengan suara digital surround ini. Partner yang udah teruji memberi kepuasan lahir dan bathin untuk main game dan nonton DVD. Kini, Altec Lansing di pojok-pojok ruangan pun hanya bisa diam membisu. Komputer tua ini jadi gagu sementara waktu.