Archive for December 2006

Blue Angel dengan Magneto

December 29, 2006

Today05Basbang mungkin, bagi sebagian orang. Tapi melakukan upgrade ROM untuk windows mobile sudah menjadi cita-cita saya sejak beberapa tahun lalu. Kala itu, saya masih menggunakan windows mobile Himalaya. Ketika mengakses forum developers, pelajaran tentang mengubah versi ROM Himalaya semakin banyak didapat. Dari upgrade ke WM2003SE sampai WM2005. Untuk melakukannya? Nanti dulu. Niatnya sih menunggu garansi habis.

Belum habis masa garansi Himalaya, saya sudah terlanjur jatuh cinta pada varian HTC selanjutnya. Blue Angel. Saat itu, developers semakin meningkatkan kinerja dari WM2005 dengan AKU (Adaptation Kit Update)-nya. Kenginan itu semakin kuat. Download source-nya pun mulai saya lakukan. Lagi-lagi masalah garansi membuat saya menunda niatan itu. Oh iya, kenapa masalah garansi ini jadi ganjalan? Terdengar kabar bahwa bila device kita rusak karena masalah upgrade ROM atas keinginan sendiri, garansi hangus. Dan resiko dari upgrade ROM ini juga tidak main-main. Bila ada interupsi sedikit saja pada saat proses upgrade berlangsung, device bisa mati total. Tidak seperti instalasi PC, bila gagal mungkin kita bisa format ulang, masalah beres. Instalasi ROM baru ini juga sangat disarankan menggunakan notebook atau PC dengan UPS. Apabila tanpa diduga listrik mati, PC tidak ikutan mati dan tidak menghentikan proses upgrade.
(more…)

Advertisements

Liburan Tanpa Libur

December 25, 2006

Sebenarnya liburan adalah masa yang menyenangkan bila diisi dengan aktivitas melepas stress dan menghilangkan kejenuhan rutinitas sehari-hari. Apalagi bila liburan jatuh pada masa big season. Akhir tahun ini misalnya.

Jatah cuti tahun ini yang hampir tidak pernah saya ambil, membuat jumlah hari yang tersisa lumayan banyak. Niatnya memang akan saya habiskan untuk akhir tahun. Tapi sayang, niat itu tidak terkabul di tahun ini. Secara rekan yang beragama Nasrani pasti mempunyai niat yang sama untuk merayakan hari besarnya. Bos baru saya pun kebetulan beragama Nasrani. Jadi, akan sulit bagi saya dapat menghabiskan sisa cuti pada masa-masa ini. Harus mengisi tempat yang kosong di meja kantor.

Pada pertengahan Desember, paksaan untuk mengambil cuti terus berdatangan dari SDM. Heran, koq malah dipaksa yaa… 😉
Akhirnya, saya terpaksa ambil cuti tahunan dari tanggal 18 – 22 Desember. Waktu seminggu ternyata belum juga menghabiskan sisa cuti saya tahun ini. Sementara, Bos kerap meminta saya untuk menghabiskan cuti. Sayang kalau hangus, katanya. Karena Desember ini bulan terakhir menghabiskan cuti menurut peraturan perusahaan, akhirnya saya bilang, biarlah sisa cuti tahun ini hangus ditelan waktu. Ternyata bos saya ini belum menyerah. Dia akan meminta pengecualian ke SDM agar waktu cuti saya bisa diperpanjang sampai akhir Januari. Dan, jadilah cuti sesi kedua jatuh di akhir Januari 2007.

Balik ke cuti sesi pertama. Berhubung waktu cuti yang terpaksa, waktu saya jadi terbuang percuma. Belum ada rencana-rencana jitu untuk menghabiskan waktu libur di tanggal-tanggal tersebut. Hampir tidak ada kegiatan yang bisa menghilangkan stress atau melupakan rutinitas. Tetap saja diisi dengan menghadap komputer, bergumul dengan dunia maya, sambil sesekali melihat email kantor dan melayani telepon pertanyaan seputar pekerjaan dari orang kantor. Meeting kecil dengan rekan komunitas juga sesekali terselip dalam masa cuti ini. Ah, semua kegiatan itu pun sama seperti yang saya lakukan setiap harinya. Bedanya, biasa melakukan di kantor, sekarang di rumah. Satu-satunya kegiatan yang ‘mungkin’ bisa menghibur adalah pada hari Minggu(24/12) saya menonton Eragon di Gading XXI. Yah, lumayan lah, walau beberapa orang menyimpulkan film ini sux.

Hari Senin (25/12), masa libur saya malah ditutup sesuatu yang tidak menyenangkan sama sekali. Kran air di rumah yang memang sudah karat, drat-nya dol dan air pun keluar tanpa henti. Jadilah pagi sampai siang ini saya harus memperbaiki kran air. Duh, saya khan tidak pernah mendapat mata kuliah servis kran air… 😦

Turun Mesin

December 10, 2006

Menginjak awal usia 9 tahun (1997-2006), motor saya mulai menunjukkan gejala kerusakan pada bagian mesin. Dari tarikan yang kelewat berat, asap hitam mengepul pada rpm tinggi, sampai berkurangnya ukuran oli pada kilometer ke-500. Dari gejala ini sebenarnya sudah bisa dipastikan obat satu-satunya adalah dengan melakukan ritual ‘turun mesin’. Minimal, kerusakan pada area klep, seher, dan rumah kopling menjadi tujuan utama service besar selanjutnya. Kondisi ini yang menyebabkan tak pernah percaya diri lagi untuk turing bareng teman satu komunitas atau menempuh perjalanan yang agak jauh.

Jumat malam, tepatnya tanggal 1 Desember 2006, seperti yang sudah dijadwalkan, saya membawa motor ke bengkel langganan. Dengan target maksimal 2 hari -berharap hari Senin sudah selesai-, saya paparkan semua yang mungkin harus diperbaiki. Tanpa sadar, banyak sekali kekurangan yang harus dibenahi. Dari ritual turun mesin tadi, perbaikan harus merembet pula ke area komstir, kabel body, gir depan, kanvas rem belakang, sampai indikator bensin.

Ya, memang wajar, dengan umur motor yang tergolong tua, dan digunakan harian, apalagi saya sudah jarang ‘mengelus’ motor ini sejak beberapa bulan lalu… 😉 . Tapi saya cukup bangga juga dengan ketahanan mesin keluaran ’97 ini. Sudah banyak kerusakan serupa timbul pada motor keluaran baru yang belum genap berusia 5 tahun.

Setelah mendapat estimasi biaya –dem, mahal bener yaa- saya masih mempunyai keinginan untuk mengganti stang standar dengan stang YT yang biasa digunakan untuk motor trail. Selain untuk variasi, dengan bentuk yang lebih lebar, diyakini membuat posisi duduk pengendara menjadi lebih santai. Dan kabarnya, stang ini bisa menjadi penyeimbang untuk motor yang ditambah aksesoris box di belakang. Kekurangannya, bila dalam keadaan macet, agak sulit untuk melakukan aktivitas ‘selap-selip’.

Stang YT

Molor satu hari dari jadwal semula, motor saya baru selesai Senin sore. Bukan tanpa sebab, perbaikan kabel body memakan waktu yang lebih panjang. Kondisi kabel yang sudah carut marut, dirapikan satu persatu oleh sang mekanik. Begini lah bila terlena dengan aksesoris kelistrikan sejak dulu. Dari klakson yang bermacam-macam, sirine, sampai flasher dan strobo pernah hinggap di motor ini. Selain flasher, sekarang semua aksesories tersebut sudah dilepas dan meninggalkan bekas yang merepotkan.

Setelah diperiksa secara keseluruhan, langsung saya tancap gas menuju rumah. Wuiih, serasa motor baru lagi. Tarikan enteng, bunyi halus, dan dudukan yang nyaman dengan stang yang lebar. Manstab, dan siap turing lagi. Yeah!

Antara Ego Pribadi dan Pelayanan Prima

December 2, 2006

Sejak awal bergabung dengan salah satu bank swasta nasional, saya sudah disuguhkan beberapa tema pelatihan yang harus diikuti sebelum terjun langsung di pekerjaan. Salah satunya adalah service excellent atau pelayanan prima. Walaupun nantinya pekerjaan saya bukan untuk ditempatkan di front office, tema ini menjadi salah satu pelatihan wajib di perusahaan saya. Inti dari tema ini adalah bagaimana seorang karyawan mampu melayani nasabah dengan layanan yang prima. Dengan banyaknya teori yang disampaikan, jelas terdoktrin bagaimana kami tidak boleh melakukan sesuatu hal, sekecil apapun, yang dapat mengecewakan nasabah. Nasabah adalah raja.

Selang beberapa tahun terlewat, saya memang tidak pernah secara langsung berhubungan dengan nasabah. Karena bagian support yang saya geluti, lebih fokus kepada dukungan suatu system atau kegiatan dan prosedur dapat berjalan lancar. Sesekali mungkin bisa langsung berhubungan, tapi frekwensinya sangat rendah.
(more…)