Bandung Adalah Tidur

Dering ponsel pagi itu, lantang menggugah jiwa yang masih terombang mimpi tak beralur. Pukul 5 pagi memang sudah direncanakan untuk bergegas menuju kumpulan bus jurusan Bandung. Segelas teh manis nyaris habis bila kepanikan tidak datang bersamaan dengan tatapan tajam pada jam dinding. Berlari kecil pun harus dilakoni agar tidak menerima nasib tertinggal mobil bongsor yang akan mengantarkan saya ke Kota Kembang itu.

Yaa, deretan tanggal berwarna merah di bulan Agustus ini memang saya rencanakan untuk berkunjung ke Bandung. Tamasya ke Pantai Anyer pun sudah terselip bersama keluarga di sana. Sabtu pagi, pukul 8.30 WIB, saya sudah menginjakkan kaki di kota yang terkenal dengan udara ‘nyaris’ sejuk itu. Namun, belum benar-benar sampai ke tempat tujuan, sebuah sms mengabarkan bahwa rencana ke Anyer harus dibatalkan. Kendaraan yang akan digunakan, harus dipinjam oleh kerabat yang lebih membutuhkan.

Kini, sesampainya di rumah asri dengan halaman yang luas, saya langsung melahap makanan yang tersedia di meja. Makhluk-makhluk dalam perut yang semenjak tadi berdemo, sudah diam dan tenang. Entah karena pengaruh kenyang atau kurang tidur semalam, mata ini menjadi sangat berat, dan semakin berat. Hingga tak terasa, saya sudah membuang waktu siang ini dengan mendengkur selama kurang lebih 4 jam.

Bangun tidur, kembali memanjakan para pendemo setia dalam perut dengan mengucurkan makanan dan minuman segar khas Jawa Barat. Karedok, yang sudah ditakdirkan menjadi salah satu makanan favorit saya, memberikan hiburan tersendiri bagi makhluk-makhluk dalam perut itu. Tak terasa, dua piring nasi sudah ludes masuk ke dalam tubuh.

Langka tapi nyata, setelah perut kenyang dan tubuh bersih dengan guyuran air dingin, benda besar virtual kembali mengelayuti kelopak mata. Ah, rasa berat tak terhingga di pelupuk mata membuat tubuh saya kembali terhuyung dan tersungkur di springbed empuk. Niat untuk menyaksikan tayangan bioskop TransTV harus terkubur dalam mimpi. Malam itu, kembali menyerah kalah pada kemauan sang rasa kantuk. Sampai pagi!

Pukul 8 pagi, saya baru saja merasakan benda berat itu menghilang dari mata. Semoga saja hari ini, saya dapat menjalankan aktivitas ‘melek’ seperti hari-hari sebelumnya. Apalagi, hari itu saya berniat untuk melaksanakan ritual hunting pakaian di FO-FO kota ini. Sederet list model pakaian yang akan dibeli sudah dibuat dalam lembaran pikiran. Pagi ini, setelah mandi dan gosok gigi, saya melahap lontong sayur dengan sempurna. Tidak membekas sedikitpun. Bumbunya aneh, namun menarik. Cukuplah sebagai ganjalan sebelum dilengkapi dengan batagor Dago siang nanti.

Sambil bersantai, menyaksikan Detektif Conan beraksi dari layar kaca, saya menyempatkan diri membaca sebuah harian kota ini. Terpampang jelas foto sebuah jalan di Bandung yang dipenuhi kendaraan. Nyaris seperti lapangan parkir. Hampir semua kendaraan tidak bergerak. Macet total! Di sebelah kiri gambar itu, ada satu artikel yang memberitakan perihal kemacetan kota Bandung ini.

Duh, tiba-tiba rasa malas datang membujuk untuk membatalkan saja rencana hari ini. Deru kemacetan membayangi. Dan, sekali lagi, rasa malas berhasil menanamkan benihnya ditubuh saya. Tak terbendung sama sekali.

Akhirnya saya kembali masuk kamar. Sambil bersantai, coba-coba browsing internet via pocket pc, serta menengok email yang masih saja datang tatkala lonceng liburan sedang berbunyi. Dan, seperti tak heran lagi, tanpa ragu-ragu rasa kantuk menyerang hebat. Siang itu pun saya kembali takluk dalam dekapan bantal dan guling yang tak henti-hentinya menyandera sejak kemarin. Entah sudah berapa jam yang harus saya buang dengan memejamkan mata dari pagi hingga sore itu. Dan cerita malam sebelumnya pun terulang. Mata ini kembali terpejam ketika malam baru saja menjelang. Sampai matahari menyapa keesokan harinya.

Entah karena udara, lokasi yang sunyi, tidak ada aktivitas harian, atau memang badan yang ingin beristirahat, total saya lebih banyak menghabiskan liburan ini dengan memejamkan mata. Rasa kantuk tidak juga pergi walau jam tidur yang saya jalani sudah jauh lebih lama dari biasanya.

Sekarang saya sudah kembali ke Jakarta. Beda seratus delapan puluh derajat, walau dengan badan lelah selama perjalanan dari Bandung, susah sekali untuk pergi ke alam mimpi. Ugh!

Explore posts in the same categories: BlogMe

5 Comments on “Bandung Adalah Tidur”

  1. lea Says:

    mana oleh2nya…???

  2. cemoet Says:

    dasar *pelor* juga lo yah šŸ˜€

  3. dodi Says:

    jadi kangen bandung.

    dan semua memori di sana.

  4. bagonk Says:

    … jadi pengen ke baturaden…

    sama bos, kerjaan saya di sana cuma tidur melulu… šŸ™‚


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: