Hujan dan Flu

Kisah bermula pada hari Senin lalu. Waktu itu hujan turun sejak malam. Paginya, hujan justru semakin deras. Berhubung harus masuk kantor, dengan dilindungi jas hujan, menempuh macetnya jalan Jakarta dengan motor kesayangan. Awalnya perjalanan begitu lancar, hanya hawa dingin dan sentuhan rintik hujan di sekujur tubuh yang agak mengganjal. Belum lagi tetesan air yang jatuh tepat di muka helm dan sesekali menghalangi pandangan.

Memasuki wilayah perkantoran di sekitaran Thamrin, tiba-tiba motor tiger berhenti mengaum. Kontan tidak ada daya untuk melajukan motor berkapasitas 200 cc ini. Berhenti sejenak, mencoba untuk menekan ulang tombol starter electric. Beberapa kali tekan, si tiger kembali mengaum. Lega rasanya.

Setelah mengantar istri di salah satu gedung sekitaran perkantoran tersebut, kembali melanjutkan perjalanan menuju arah Patung Tani. Rupanya kejadian awal matinya mesin kembali terulang. Tepatnya di samping Sarinah Thamrin. Usaha seperti di awal pun segera dicoba. Namun sayang, kali ini motor tidak juga menyala. Sekian kali dicoba plus selah, sama saja. Terpikir, mungkin ada air yang masuk ke salah satu bagian mesin dan membuat mesin mati. Akhirnya terpaksa mendorong kembali motor berat keluaran Honda ini menuju perkantoran Thamrin untuk menumpang parkir.

Sambil sedikit berhujan-hujan, melanjutkan perjalanan menuju Patung Tani dengan bajaj. Dasar bajaj SUX, dengan kondisi seperti ini beberapa bajaj yang ditanyakan harga selalu mengenakan tarif yang jauh lebih mahal. Akhirnya mengalah karena waktu terus berjalan dan harus bergegas bila tidak ingin lebih telat masuk kantor.

Sesampainya di kantor, ternyata ke-apes-an belum juga berakhir. Ponsel GSM sudah lowbat dan tidak bawa charger. Sementara ponsel CDMA yang biasa digunakan untuk koneksi internet juga tertinggal kabel data-nya. Dua ponsel yang selalu menemani kehidupan sehari-hari ini nyaris tiada berguna. Dan otomatis seharian itu pun tidak bisa buka internet sama sekali.

Singkat kata, sore hari tepat pukul 17.00 WIB, langsung bergegas menuju Thamrin untuk mengecek keadaan motor dengan diantar rekan kantor. Sesampainya di lokasi parkir, sudah ada salah satu member HTML yang kebetulan bekerja di gedung itu, siap membantu bila diperlukan. Tanpa buang waktu, menekan tombol start. Jreng, Tiger langsung mengaum. Beruntung tidak ada masalah berarti dan sampai di rumah dengan selamat. Esoknya cek busi yang memang sudah tua dan menggantinya dengan yang baru. Busi cadangan pun tidak ketinggalan disertakan.

Efek berhujan-hujan Senin itu baru timbul semalam. Gejala flu mulai datang. Ditambah Rabu malam masih harus pulang larut. Tentu dengan hujan yang turun menemani perjalanan. Hampir semalaman tidak bisa tidur karena hidung yang tersumbat dan sulit bernapas.

Dan hari ini, bahkan hujan turun bagai diguyur dari langit. Masih deras sejak semalam. Trauma errornya mesin tiger karena hujan, kembali membayangi perjalanan pagi. Jelas-jelas tidak bisa menikmati perjalanan sama sekali. Panik, macet, dingin, hidung meler, tidak enak badan membuat kumplit derita perjalanan pagi ini. Hmmm.. mungkinkah sudah saatnya beralih ke Honda Jazz? πŸ˜‰

Hujan dan flu memang SUX!

Explore posts in the same categories: Kesehatan, Motor dan HTML

14 Comments on “Hujan dan Flu”

  1. didats Says:

    eh, orang jakarta lagi kena flu ye???
    huehuehue…

  2. ndra Says:

    hwaaaaaaaa…….keduluwan didats!!

  3. arjuna Says:

    honda jes yang inrayen itu bisa dipake 120 km/h lebih πŸ˜›

  4. ambar ( larasati_1 ) Says:

    Gimana nih pengantin baru ,koq sakit flu terus yah,,,,,yaudah buruan ganti honda jazz aja biar gak pusing…..

  5. shemut Says:

    “Setelah mengantar istri di salah satu gedung……”

    deeee…. istri….deeee…… πŸ˜€

  6. Bi[G] Says:

    eh…
    koq cerita malem pertamanya nggak ada di blog?

  7. medon Says:

    huss… kebayang lo kalo gak ada hujan omm… pokona cepet smbuh :D™

  8. Sun-eV Says:

    Tapi dirumah khan sudah ada yang mijitin. πŸ™‚

  9. tomat Says:

    Makanya makan makanan yang enak-enak…
    *lho*


  10. makanya, pake SUZUKI SMASH!!!!

  11. hericz Says:

    Ah, itu masuk angin karena keseringan gak pake baju kalo malem.

    Makanya, ditutup pake selimut dong.

    *melenggang kangkung*

  12. boku_baka Says:

    udah jual aja tigernya ganti Jonda Hazz!
    (*fahmi effect*)

  13. fanabis Says:

    Kalau saya takut naik motor di jakarta. Sebab disini jalanan seperti hutan belantara tanpa peraturan. Plat-plat tanda lalu lintas mungkin terlihat transparan oleh kaca helm/mobil.

    Buktinya sebagian pengendara mobil/motor seenaknya saja berzig-zag menabrak marka-marka jalan, menelusup diantara jajaran mobil yang hanya berjarak beberapa cm. Juga menerobos lebih kencang ketika rambu-rambu berwarna kuning.

    Pernah kepikir ingin menulis buku “cara berkendara di jalan raya”. Tapi saya yakin buku itu tak akan laku. Karena sebenarnya mereka sudah tahu bagaimana cara berkendara yang benar. Hanya mereka tidak mau melakukan.

    Saya terpaksa memilih naik angkutan umum. Memang bukan pilihan lebih baik. Tapi setidaknya saya bisa mengantuk dalam kepengapan. Bisa melihat wajah-wajah yang selalu “asing”. Dari ekspresi wajahnya ketika kenek memerintah bergeser selangkah kesamping, dari aroma minyak rambut yang dipakai, dari topik yang dibicarakan, dari buku yang dia baca, lalu saya bisa menduga karakter-karakter mereka seperti apa.

    Tentu saya tidak bisa mengklaim dugaan saya sepenuhnya benar. Yang pasti benar, ketika musin hujan seperti sekarang ini para penumpang angkutan umum akan lebih rawan kena penyakit menular dibanding pengendara motor. Sebab di dalam angkutan, orang saling bertukar virus lewat nafas. Pintu jendela yang tertutup mempercepat virus menyeberang dari paru-paru yang satu ke yang lain.

    Di halte saya suka memperhatikan perilaku orang-orang. Ketika ada seseorang yang melihat saya lebih dari sekali, pasti dia punya tujuan tertentu. Dan benar, mereka bertanya lalu meminta uang buat ongkos dan segala macam. Meminta ya bukan memalak. Saya pernah mengalami tiga kali.

    Ketika ada sekelompok laki-laki, biasanya lebih dari 3 orang naik, saya harus curiga. Mungkin mereka itu para pencoleng. Lihat tampang dan “kesan” yang tergambar dari wajah dan gerak mereka. Saya kesulitan menggambarkan ekspresi mereka di sini. Tapi ketika berhadapan langsung saya akan tahu. Dan “dugaan” saya sudah terbukti tiga kali.

    Pertama di bus umum ketika saya akan ke glodok, cari dvd bokep. Para pencoleng naik dari sarinah, thamrin. Untung saya duduk di depan, ketika terjadi ribut-ribut dibagian belakang, saya langsung turun di depan ICMI. Yang kedua di angkot mobil kecil yang meuju pamulang. Di sekitar ciputat ada empat orang naik. Saya sudah menduga, tapi saya tidak yakin. “Masa di angkot kecil begini ada penjahat”? Dan pagi itu saya kehilangan hp dan sejumlah uang.

    Peristiwanya seperti di film. Pertama saya ditanya anak mana dan segala macam. Kesannya saya orang yang suka berantem. Dan saat itu mereka sedang mencari seseorang yang malam itu melukai temannya. Katanya saya mirip dia. Saya tahu, ini alasan belaja, masak wajah imut begini dibilang tukang berantem.

    Mereka akan memeriksa tas yang kubawa. Tentu saja saya menolak. Lalu salah satu dari mereka menempelkan pisau ke leher sambil menjambak kaos yang kupakai. Salah satu temannya menggeledah tas dan menguras isinya. Sebenarnya saya tak yakin mereka “mampu” menusukkan pisaunya. Tapi saya mengalah, karena dalam mobil hanya ada satu penumpang beneran, bapak-bapak yang akan ke undangan. Jalanan masih sepi, karena hari minggu itu masih sangat pagi.

    Sampai sekarang, masih saja tetap memakai angkot. Mau pindah ke Honda Jazz, saya masih takut tergores.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: