Sehari 3 Kali

Rupanya kehidupan di kota besar seperti Jakarta sudah sedemikian sulit. Beberapa orang yang mungkin sudah terjepit masalah ekonomi, sering mengambil jalur pintas dengan menghalalkan segala macam cara demi memenuhi kebutuhannya. Dalam satu hari kemarin saya menemui tiga cara penjahat dalam mengambil keuntungan dengan jalan yang salah. Ini hanya sedikit contoh kecil saja dari ribuan cara lain yang bisa ditempuh mereka.

Sekitar pukul 10.30 kemarin menerima SMS dari nomor +6281316695*** yang isinya:

“Plgn Yth,No.Sim Card, halo, anda meraih GEBYAR SMS,halo POIN dr, TELKOMSEL hub.Call,center: 021-68349*** 021-68349***
pengirim:
222”

Tentu jenis penipuan dengan iming-iming hadiah dari provider melalui SMS seperti ini sudah sangat BASBANG bagi kita. Tapi mengapa hal ini masih terus dilakukan oleh para penjahat? Ah, pasti masih ada beberapa dari kita yang mudah tergiur tipuan basi seperti ini.

Sebenarnya, dari membaca sms ini, terlihat betapa bodohnya orang-orang itu dalam menuliskan kalimat. Hampir bisa dipastikan tidak mungkin sebuah penyedia saluran komunikasi menulis pengumuman dengan format seperti itu. Kemudian, data pengirim 222 yang seolah-olah berasal dari Telkomsel, padahal sudah jelas tertera di ponsel pengirim berasal dari nomor 0813**. Mungkin format ini dibuat dengan mengikuti format ponsel Nokia seri lama dengan setting Bahasa Indonesia. Sehingga apabila discroll ke bawah, seakan-akan terlihat si pengirim benar-benar berasal dari nomor 222. Sementara pada jenis ponsel terbaru, format seperti ini hampir mungkin tidak berlaku lagi.

Saya sudah sering menerima SMS penipuan seperti ini, namun berhubung kemarin sedang tidak banyak kesibukan, iseng mencoba dial nomor yang tertera pada SMS tersebut untuk sekedar mengetahui trik mereka mengelabui korbannya. Kebetulan pada dial pertama langsung tersambung. Begitu nada sambung terhenti, terdengar seorang pria yang mengaku bernama Wahyu membuka percakapan dengan kalimat yang mirip dengan gaya para customer service mulai melayani pelanggannya. Walaupun sangat dipaksakan, tapi cara dia berucap sangat lancar dan seperti sudah terbiasa.

Dimulai dengan pertanyaan saya seputar SMS tadi, dia langsung menerangkan segala sesuatunya. Dari sini pun dia berbicara tanpa hambatan. Tidak terbata-bata sama sekali, atau mungkin dia sambil membaca text yang sudah disiapkan sebelumnya. Intinya, laki-laki ini mengatakan bahwa saya baru saja mendapatkan hadiah sebesar Rp 7.000.000,- dari Telkomsel. Tidak ada biaya atau pajak apapun yang akan dikenakan. Tinggal sebutkan nomor rekening di bank, dan hadiah langsung ditransfer hari itu juga. Setelah saya sebutkan nomor rekening palsu, dia mencatat dan mengatakan bahwa uang hadiah sudah ditransfer. Kemudian dia meminta saya pergi ke ATM untuk mengambil uangnya, namun sebelumnya harus melakukan konfirmasi dengan bendahara mereka untuk mendapatkan nomor sandi hadiahnya. Konfirmasi ini harus dilakukan setelah sampai di ATM. Setelah memberikan nomor telepon bendaharanya, dia menutup setelah mengucapkan selamat dan terima kasih.

Dari sini, saya tidak menghubungi bendaharanya karena sudah tidak tertarik lagi. Mungkin, ketika kita sampai di ATM dan melakukan konfirmasi dengan bendahara, pasti akan ada permintaan-permintaan lain yang akhirnya malah merugikan kita.

Setelah penipuan kasus SMS ini saya tinggalkan, sekitar pukul 12.00 jam makan siang, baru saja keluar dari gerbang gedung kantor, seorang ibu berumur sekitar 40 tahun menghampiri. Awalnya tidak menyadari bila ibu itu menuju ke arah saya karena merasa tidak kenal. Tapi begitu dekat, dia langsung bertanya, “Kerja di bank mana?”
Tanpa basa-basi dan tanpa sapaan awal membuat saya bingung dengan pertanyaan ini. Maka saya jawab saja,”Ah, nggak!”. Sebuah jawaban yang secara reflek saya ucapkan. Lucu juga bila mengingat pertanyaan dan jawaban tidak singkron. 😀
Berhubung saya sedang terburu-buru, saya langsung pergi meninggalkan ibu-ibu yang terlihat ingin mengejar. Mungkin melihat saya yang terlihat cuek, dia mengurungkan niatnya.

Sebenarnya kejadian seorang wanita yang dengan gaya seperti ini sudah beberapa kali saya temukan di tempat lain. Buntut-buntutnya mereka akan mengatakan bahwa mereka ingin meminjam/meminta sejumlah uang dengan alasan butuh untuk berbagai hal yang sangat darurat. Itulah sebabnya saya tidak perlu menggubris tindakan-tindakan seperti ini.

Malamnya, baru saja sampai rumah, tergeletak sebuah amplop surat dengan nama dan alamat lengkap saya tercetak di depannya. Perangko berstempel pos juga menempel di pojok kanan atas. Rasanya sudah lama sekali semenjak terakhir menerima surat dengan jenis ini. Apalagi dengan mudahnya mengakses surat elektronik yang lebih praktis, seakan melupakan model surat menyurat melalui pos. Selebihnya mungkin hanya menerima billing tagihan atau rekening koran. Amplop ini polos dan tanpa identitas pengirim di belakangnya.

Tanpa berpikir panjang, langsung membuka amplop ini. Isinya terdiri dari beberapa lembar kertas A4 dengan ketikan rapi terusun di setiap lembarnya. Paling atas lembaran pertama tertulis, “PROGRAM PEDULI SESAMA”. Di bawahnya terpampang segala keterangan dengan judul Informasi Program Investasi.

Saya baca dengan seksama lembaran-lembaran itu. Konsepnya adalah mencoba menawarkan investasi sambil beramal dengan hasil yang sangat menggiurkan. Dengan mentransfer uang sebesar Rp 15.000,- ke beberapa nomor rekening BCA yang tertera dan menggunakan rumus yang tersedia. Rumus tersebut sangat jelas dijabarkan dengan bahasa yang jauh lebih apik dibanding penipuan SMS diatas. Tapi mereka melupakan apabila dibaca lebih teliti, sebenarnya itu semua hanyalah perintah mentransfer uang sebesar Rp 60.000,- ke empat rekening yang berbeda. Mungkin rumus-rumus itu yang dipergunakan untuk membuat bingung penerima dan akan tergerak untuk mencoba. Apalagi dengan iming-iming pendapatan puluhan juta rupiah dalam waktu beberapa bulan saja.

cartoon

Heran bagaimana kejadian-kejadian ini terjadi berurutan dalam satu hari. Mungkin sudah sedemikian sulitnya kehidupan di kota besar seperti Jakarta, sehingga berbagai cara baru selalu timbul untuk mendapatkan uang dan dilakukan dalam segala waktu dan segala lapisan masyarakat. Sekedar informasi, saya pun pernah mengalami menjadi korban kejahatan hipnotis di Pasar Baru, Jakarta pada bulan Agustus 2002. Yang jelas, semuanya tetap saja BASBANG!

Jadi, berhati-hatilah, Kawan!

Explore posts in the same categories: BlogMe

7 Comments on “Sehari 3 Kali”

  1. didats Says:

    nah ntu dia…
    gw udah usaha keras di jakarta…
    dan gitu gitu aja,
    makanya gw pindah ke bali..

    *lho?*

    hihihi

  2. arjuna Says:

    /clear

    PERTAMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

  3. anunemas Says:

    BASBANG ™

  4. boku_baka Says:

    Kenapa nomornya disensor? sebar aja, biar kita gangbang rame 🙂

  5. tomat Says:

    coba jawab aja kalo elo kerja di telkomsel…pasti langsung di tutup deh 😀

  6. frozi Says:

    sama dengan gw, seperti ini kejadiannya. kehidupan jakarta-lah yang membentuk mereka berusaha kreatif tapi sakit begini.

  7. bLub Says:

    di deket halte dukuh atas,
    setiap kali gue pulang, ada ibu2 yg suka tiba2 memanggil..

    “mba.. mba… bisa minta seribu ga?”

    dia pakaiannya casual dan membawa tas tangan. Terkesan seperti nyasar di Jkt dan kehabisan duit.
    Gue sih emang ga peduli, langsung bersikap hati2. Besok2nya, ternyata dia memang mangkal disitu, dan selalu meminta duit seribu…

    modus penipuan emang beda2 sih..

    kalo sms itu, gue lebih mikirnya, dia emang ngejar mereka2 yg hapenya monochrome alias ke orang2 tidak mampu.
    masih banyak yg percaya kayaknya…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: