My Blog Is Back…!!!

Posted February 15, 2015 by byonics
Categories: Uncategorized

Bukan. Ini bukan kembalinya saya ke kancah blogging. Atau saya ingin aktif lagi untuk ngeblog yang memang trend sesaat itu.Tapi lebih pada kembalinya keseluruhan blog ini secara utuh.

Jadi ceritanya begini.

Sekitar beberapa bulan silam, saya iseng menengok blog gratisan di wordpress ini, karena sudah tak tau lagi mau ngapain di internet. Saat itu rupanya blog ini di-suspend. Alasan pastinya saya juga gak tau. Tapi saat itu saya berpikir account di suspend karena saya gak pernah aktif lagi di sini.

Yaa sudahlah. Saat itu sih cuma kepikiran pasrah aja. Lagian, blog ini cuma back up aja koq. Yang utama masih ada di domain utama.

Nah, setelah sekian lama blog di wordpress ini suspended, saya menemukan lagi saat saya harus iseng membuka web-web gak penting. Dan akhirnya mampir ke domain utama saya. Dan kali ini lebih mengagetkan lagi. Domain ini pun sudah tidak bisa dibuka. Keliatannya karena masalah hosting. Memang, udah lama saya gak pernah maintenance hosting di sana. Sementara untuk domain sendiri masih aman lah. Karena saya masih rajin perpanjang.

Ok. Masalah hosting juga sebenarnya tidak saya pikirin. Nanti tinggal cari hosting baru. Cuma yang jadi ganjelan adalah arsip blog saya yang pada waktu jayanya sudah menjadi ajang menuangkan pikiran dalam tulisan. Mungkin ada puluhan atau lebih banyak lagi, judul blog yang sudah saya tulis dari awal tahun 2000-an. Dan saya tidak punya back up-nya. Punya sih, tapi lupa simpan di mana..🙂

Kemarin, sabtu pagi saya iseng kpikiran untuk membuka kembali lembaran suspended blog saya di wordpress. Dan kepikiran mau tanya ke supportnya. Email pun saya kirimkan. Dan, responnya lumayan mengagetkan. Cepat, dan yang pasti langsung menyelesaikan masalah.

Sinkat cerita, akhirnya blog ini hidup lagi. Lengkap dengan seluruh tulisan saya jaman baheula.

[edisi-pemburu-bebek] Ginyo

Posted August 13, 2013 by byonics
Categories: Uncategorized

Kebetulan melancong ke daerah Selatan Jakarta, pemburu berniat melampiaskan rasa laparnya kepada unggas berinisial B. Ketik keyword ‘bebek’ di Sygic, keluarlah Nasi Bebek Ginyo. Alamat-nya sekitaran Tebet Utara Dalam.
 
Pilih Navigate, aplikasi GPS di tablet Cina ini menuntun pemburu menuju lokasi makan siang.
 
Sepinya Jakarta, membuat pemburu tak memerlukan waktu lama untuk tiba di lokasi. Nyaris tanpa hambatan berarti.
 
Sygic telah mengakhiri tuntunannya. Jejeran mobil terpakir nyaris memakan badan jalan. Pemburu harus berjalan melewati TKP untuk mencari lahan kosong. Mungkin karena bertepatan dengan jam makan siang para pekerja rodi yang gagal cuti.
 
Berjalan sedikit masuk area resto, pemburu sudah dipaksa ikut antri dari parkiran depan. Wogh, ini apaan sih, pake model antri mengular kayak mau ambil sembako?
 
Sengatan matahari nyaris meluluhkan niat pemburu untuk ikut antri bersama muka-muka lapar para pemburu lain. Tapi, berhubung udah niat mau coba si Ginyo, pemburu terus bergerilya jalan perlahan menuju meja hidangan.
 
Nasib buruk kembali datang. Tak jauh lagi dari lokasi magic jar, ada issue dari depan bahwa bebek habis. Bah! Apes.
 
Tanya petugas setempat, bebek sebenarnya belum habis, tapi stock masih dalam perjalanan. Blah, sama aja kali, Tong.
 
Berita baiknya, katanya gak lebih satu jam, bebek akan datang. Hmm, satu jam menunggu. Worth it gak yaa?
 
Tapi emang kadung udah niat, pemburu langsung masuk ke ruang ber-AC, dan memesan minum. Pantang mundur menunggu bebek.
Lagi-lagi kecewa mendera. Gak bisa pesen dari meja. Harus antri. Huh, mending gak minum deh. Karena harus antri ulang lagi antri dari parkiran. Cuma untuk segelas minum.
 
Satu jam ternyata gak terlalu lama juga. Mungkin karena ditemani Wifi gratisan untuk junk di sana dan junk di sini.
 
Gak sampe satu jam, yang ditunggu pun tiba. Bebek sudah siap di meja hidang.
Tapi, yaa harus antri lagi. Edunz juga, dari tadi antrian gak juga habis. Tak apalah, karena aroma begor udah masuk ke lubang napas pemburu. Sedikit motivasi dalam beban berat antrian ini.
 
Ambil nasi secukupnya, pilih bebek kremes sebagai menu utama. Kaget juga ngeliat ukuran bebek di sini. Mungkin 2 kali lipat ukuran bebek slamet, atau 3 kali lipat ukuran bebek kaleyo versi hemat.
 
Pilih-pilih lalapan segar, plus sambel dengan aroma yang menyegarkan. Langsung menuju kasir.
Rp 79.000,- untuk 2 porsi bebek+lalapan+sambal+es teh manis. Yaa, lalapan dan sambal dikenakan biaya. *najong*.
 
Masih kagum dengan ukuran bebeknya, pemburu membolak-balik dada jumbo ini. Mikir, mau hajar dari sebelah mana.
 
Suapan pertama. Datar. Suapan kedua, masih datar.
Lho, mana rasa bebeknya? Ini sama sekali gak berasa bebek. Cuma dominan rasa gurih dari kremes yang menyatu dengan tepung.
 
Pemburu blusukan ke arah daging murni di dalam sana. Yang langsung menempel dengan tulang. Hasilnya, tetep datar.
 
Pemburu hanya merasakan ini layaknya daging ayam biasa. Nyaris tak terasa unik bebeknya. Ah, mungkin karena pemburu terlalu sering merengguk kenikmatan bersama Bebek Slamet.

Minggu Ini

Posted October 2, 2011 by byonics
Categories: Uncategorized

Nissan Livina sudah mengajukan klaim atas sedikit kecelakaan tersenggol tembok, di Bandung. Tanggal 1 Oktober 2011, akan mulai menjalani rawat inap di TB Simatupang. Sebenarnya masih ada kerusakan yang tidak sempat di klaim karena belum terpikirkan untuk menjadikan semua luka itu menjadi satu kejadian. Namun, berkat kejadian Kamis kemarin, lengkaplah penambahan satu klaim lagi untuk sisi kanan.

Pagi yang cerah di Lebak Bulus, dalam kemacetan luar biasa menuju Pondok Indah, ada motor yang harus berciuman dengan bemper depan. Malamnya, dalam kepadatan lampu merah Santa, sebuah Terano dengan beringas menyundul bemper belakang. Kisah buku The Secret yang mengatakan bahwa apa yang ada dipikiran kita bisa terjadi, terbukti sudah.

Memang selama masa tunggu mobil untuk diopname, perbaikan kecil sisi kanan, selalu terpikir untuk ‘skalian’ memperbaiki goresan di sisi kiri. Hanya karena goresannya sangat halus, terpaksa niat itu diurungkan sambil ‘menunggu’ luka berikutnya. Dan, terjadilah dua kecelakaan Kamis tadi. Akhirnya, Sabtu kemarin sukses klaim sekalian untuk perbaikan semua sisi Livina. Target pengerjaan 8 atau 9 hari kerja. Sekitar 2 minggu.

Selama masa mobil rawat inap, transportasi akan selalu diwakilkan Honda Tiger. Motor yang ‘nyaris’ terlupakan di carport, kini kembali menjadi media utama mobilitas selama dua minggu ke depan.

Minggu pagi persiapan mulai dilakukan. Lebih dari lima bulan motor ini tidak pernah merasakan elusan langsung sang empunya untuk dimandikan. Dibiarkan dijamah orang lain, dengan uang jasa tujuh ribu rupiah sampai bersih.

Karet footstep yang hilang entah ke mana sejak dua minggu lalu, harus segera di pasang gantinya. Setelah kelar mencuci, langsung meluncur ke bengkel-bengkel pilihan. Sayang, niat baik yang sebenarnya sudah dilakukan sejak seminggu lalu, masih belum berhasil. Tidak ada satupun bengkel di kawasan Pamulang yang menyediakan stok karet footstep original.

Terpaksa pulang dengan tangan kosong. Melenggang penuh kecewa, malah berakhir fatal. Kecerobohan di atas motor, menghasilkan kerugian berikutnya. Saat akan membuka pagar, tak disadari standar motor tidak pada posisi sesungguhnya. Jatuhlah si tiger ke sisi samping. Sukses memecahkan spion kiri.

Ujungnya, siang panas minggu ini harus diisi lagi dengan mengendarai motor ke bengkel untuk mencari pengganti spion. Sial masih belum pergi. Dari semua bengkel di sini, tidak ada yang menyediakan kaca spion tiger revo baru.

Jadilah besok berkendara motor tanpa spion kiri dan karet footstep.

Nexus One Vs HD2

Posted June 14, 2010 by byonics
Categories: Gadgetory

Karena yang gue pegang duluan adalah Nexus, gue coba mulai review dari ponsel sexy ini.

N1

Hardware

Dari tampilan, gue merasa ponsel ini sangat sexy. Lekuk tubuhnya sangat aduhay dibanding beberapa superphone lain yang biasanya berbentuk kaku. Dari fisik, tidak ada nama merk atau seri di sisi depan. Hanya stempel Google yang menghias di body belakang.

Ini lumayan membantu bila ada orang iseng yang suka comment kenapa gue seneng gonta ganti HP. Tinggal bilang aja, ini HP china. Habis perkara. Karena biasanya mereka suka bawel kalo liat HP baru. Kalo HP china, selesai.

Layar 3,7” sudah cukup lega untuk membaca ebook, atau browsing. Teknologi amoled terlihat lebih tajam dan menarik. Touch button menyatu dengan screen. Plus trackball yang memudahkan kita untuk select text.

Software

Lanjut ke daleman OS-nya. Dengan Android 2.1 (out of the box), nexus one sudah terasa stabil dan cepat. Prosesor 1 Ghz-nya sangat berasa untuk buka dan tutup aplikasi. Nyaris tanpa lag. Setup email dan configurasi juga mudah. Karena ini milik google, dengan mendaftarkan user gmail, semua langsung terkait antara email (gmail appz), Gtalk, sampai ke market. Selesai mendaftar, kita langsung bisa menggunakan semuanya tanpa perlu setup satu-satu. Termasuk contact list bila kita aktifkan google sync.

Saat ini, nexus one sudah bisa upgrade ke OS google varian berikutnya, Frozen Yogurt (Android 2.2). Jadi review akan berkiblat ke OS ini.

Gue coba mereview beberapa aplikasi yang biasa digunakan sehari-hari. Pertama adalah email. Ini aplikasi email paling hebat yang pernah gue pake. Kalo kata BS, gokil abis. Full integrasi dengan gmail web. Nyaris semua fungsi bisa kita dapatkan di sini. HTML email, attach file, preview attachment, dan lain-lain. Threaded emailnya sempurna, send and receive cepat, dan bila jaringan lagi busuk, tidak takut untuk double send seperti di gmail apps BB. Gue pernah coba kirim ratusan email dalam beberapa menit. Semua email terkirim dengan sempurna. Intinya, ini management email terbaik yang pernah gue coba di ponsel. BB yang dilengkapi gmail plugin pun gak bisa ngalahin kenyamanan beremail di sini.

Aplikasi kedua yang sering gue pake adalah chat. Gtalk terbaik di sini. Untuk YM, bisa menggunakan banyak aplikasi yang tersedia di Market. Banyak juga yang free.

Hal menarik lainnya di android adalah Market. Ribuan aplikasi gratis dan powerfull tersedia di sini. Dari aplikasi internet, office, game, sampe yang esek-esek pun ada. Update setiap aplikasi juga cepat. Gak akan bosen deh untuk mencoba hal baru di Android. Untuk yang versi inul, ada juga lho pasar gelapnya, biasa disebut pasar malam di milis sebelah.

Aplikasi multimedianya lengkap. Dari nonton film, putar music, sampai edit-edit photo asik banget. Aplikasinya juga bervariasi. Sayang N1 belum ada radio tuner.

Masih banyak aplikasi lain yang disiapkan android, untuk meracuni rekanan kita. Dari live wallpaper, shazaam, sampai game dengan berbagai pilihan. Dari semua aplikasi itu, semua seakan menyatu. Contohnya, bila kita ambil photo, hasilnya bisa langsung dishare lewat beberapa aplikasi. Nice banget.

Stabilitas

Dari sisi stabilitas OS, Android ini seperti OS ponsel-ponsel jaman dulu. Nyaris tanpa hang, atau bisa dibilang, gak pernah hang. Crash hanya terjadi bila ada program yang force close. Tinggal kita klik force close, system back to normal dalam hitungan detik. Tanpa pencet tombol reset, dan tanpa cabut battery 3 menit. Indah sekali.

Gue udah terpukau dengan Frozen Yogurt. Bagaimana nanti bila Ginger Bread keluar yaa?

Yang masih pengen menggunakan Éclair (2.1), bisa dicoba rom Cyanogen. Gue pake ini, dan lebih baik dari stock ROM.

Dengan gaya pemaikaian sama di BB Storm, gue bisa 3 kali restart dalam sehari. Mirip kayak WM jaman dulu…


Battery

Untuk pemakaian yang sama, daya tahan Nexus One bisa mengimbangi BB Storm. Beda-beda tipis lah. Apalagi kalo pasang aplikasi-aplikasi model Juice atau apn droid untuk mengatur alur data yang masuk. Bisa lebih irit lagi.

Gue dengan pemakaian lumayan aktif, ribuan email dalam sehari, chat, browsing, dan game ringan, cabut jam 6 pagi, bisa tahan sampai jam 6 sore.


Kelemahan

Daya tangkap sinyal 3G agak kurang untuk daerah dengan sinyal seadanya. Di rumah gue, HD2 bisa dapet HSDPA, tapi Nexus cuma dapet EDGE. Tapi untuk di daerah yang sinyal 3G-nya stabil, ponsel ini gak kalah daya tangkapnya.

Kelemahan kedua adalah speaker. Suaranya terbilang kecil untuk ukuran ponsel sebesar ini.

HD 2

Hardware

Kecepatan prosessor sama dengan Nexus One, 1Ghz. Kayaknya ini bakalan jadi standar untuk superphone berikutnya. Button terpisah dari layar. Beberapa orang lebih menyukai ini dibanding touch button di Nexus. Mencetnya lebih berasa. Ini juga mirip dengan tombolnya Desire.

Kalo di Nexus polos, bagian depan HD2, ada stempel HTC di bawah layar. Jadi gue gak bisa bilang ini HP china lagi. Nama ini lebih familiar dibanding Nexus One. Bagian belakang ada tambahan ’With HTC Sense’.

Yang paling menarik dari tampilan HD2 adalah layarnya. Ini yang gokil banget. Dunia serasa lega bila memandang ke sini. Buat baca ebook, email panjang, atau nonton flv kepuasannya tiada tara. Tapi, walaupun dengan layar segede gaban, HD2 tetap nyaman dipegang. Walau tidak se-sexy Nexus One. Layar gede ini, lumayan eye catching. Gue pernah disamperin orang sewaktu maenan ini di KFC. Dia tertarik melihat besarnya layar, dan gak kuat untuk gak nanya. Hehehe.

Software

HD2 dibundle dengan OS WM 6,5. Kalo yang udah maenan WM dari dulu, menu-nya gak nyusahin. Gak banyak berubah dari jaman WM 5.0. Out of the box, OS HD2 belum bisa dibilang sempurna. Masih banyak lag dan gak berasa kecepatan 1 Ghz.

Yang paling menarik adalah keberadaan HTC Sense. Berasa punya OS baru lagi. Dengan ciri jam digital besar menghiasi layar, plus perkiraan cuaca yang bisa diset update dalam beberapa waktu. Animasinya keren banget. Kalo lagi cuaca cerah, akan ada sinar mentari yang menghiasi layar. Bila berawan, segerombolan awan kelabu berjalan menyisir layar. Dan bila hujan, akan keluar rintik-rintik air, dibarengin dengan wiper yang mengelap layar. Takjub ngeliatnya.

Di deretan bawah, ada deretan icon yang siap digeser untuk menunjukkan menunya. Dari sms, email, twitter, picture, footprint, sampai settingan. Baca email dari sini juga menarik dan attraktif. Walau cuma potongan text file, tapi animasi dan kecepatannya bikin ngiri.

Seperti ritual sebelumnya, gue selalu mencari ROM-ROM terbaik untuk dipasang. Jalan-jalan di XDA-developers, bertaburan OS masakan yang siap hidang. Tapi sebelumnya lakuin HSPL dulu yee…

ROM pertama yang gue coba Artemis. Karena rom ini cocok dengan versi radio gue. Jadi gak perlu update lagi. Pertama pasang, ini ROM cukup menggiurkan. Cepet banget. Di sini baru berasa kehebatan prosesor 1 Ghz. Gak jauh beda dengan android di Nexus. Tapi sayang, sekali crash, gak mau direset. Harus di hard reset *sigh*. Coret deh.

Berikutnya gue cari Energy ROM. Nama ini udah familiar dari review HD2 di milis sebelah. Tapi, berhubung versi radionya berbeda, gue urungkan di awal. Sekarang bulat gue coba ROM ini, dan update radio menyesuaikan dengan requirement.

Versi 11 Juni, dan HTC sense standar, jadi pilihan gue. Harapannya gue masih bisa menikmati keindahan Sense original di sini. Rupanya review kehebatan ROM energy memang bukan isapan jempol. ROM ini sangat cepat, stabil, dengan tampilan icon yang baru. Ini WM yang sangat perfect. Jauh dari hang atau crash yang jadi image sebelumnya. Dan, karena ini diambil dari WM 6.5.5, sekarang email standar sudah dengan menu conversation. Lebih nyaman baca banyak email, bagai di gmail.

Penggunaan aplikasi lain, sama dengan di android. Hanya dengan tampilan yang lebih lebar..

Stabilitas

Out of the box, memang HD2 belum bisa dikatakan stabil. Tapi dengan ROM masakan, HD2 udah sangat stabil dan cepat. Walau belum bisa disamakan dengan ke stabilan OS Android. Harapannya HD2 ini bisa dipasang WP 7, atau bahkan dual boot android. seperti di TP2. Sehingga dengan hardware yang powerful, akan berasa kenyamanan dengan pilihan banyak OS.

Battery

Dengan layar besar dan HTC sense, awalnya gue piker HD2 akan jadi ponsel super boros. Apalagi WM-WM yang pernah gue pake sebelumnya, batereinya bisa dibilang lemah. Gak lebih dari 4 jam dengan koneksi data udah harus di charge lagi. Tapi ternyata dugaan gue meleset. HD2 terbilang cukup irit. Dengan pemakaian yang sama, HD2 masih bisa bertahan di atas 8 jam. Beda dikit dengan nexus one, cukup lah buat gue.

Kelemahan

Dari rangkaian review di atas, kelemahan dari HD2 ada di ROM standard dan battery. Tapi bisa ditanggulangi dengan OS masakan dan battery gendong. Berikutnya adalah market yang seadanya. Aplikasi juga banyakan berbayar. Gak seru, ah. Tapi aplikasi-nya inul banyak juga di forum sebelah.

Oh iya, kalo punya ini, jangan beli case-mate deh. Walau nge-plug di tubuh HD2, buka-nya susah banget. Gak cocok buat yang suka gonta ganti batere atau SIM. Bisa-bisa baret body-nya.

Kesimpulannya, kalo bingung pilih HD2 atau Nexus, gue juga masih bingung sih. Beli aja 2-2-nya. Hehehe…

Sekian.

Sepatu Safety Kings

Posted April 11, 2010 by byonics
Categories: Uncategorized

Sepatu Kings akhirnya dateng sminggu lalu.
Barang yang gue pesen beberapa hari sebelumnya itu di-bandrol seharga Rp. 320.000,- untuk nomor 43.

Warna hitam, model tinggi di atas mata kaki, dengan sreting sebagai perekat.

Karena baru hari ini naik motor, baru bisa dicoba untuk menjejakkan kaki di sepatu, yang menjuluki diri sepatu safety, comfort model.

Pertama kali memasukkan kaki indah ini di sepatu tersebut, sudah disulitkan dengan sereting kecil yang seret. Saking kecilnya, gue khawatir mematahkan sereting itu pada pemakaian pertama.

Kedua sepatu terpasang. Pijak bumi serasa lebih berat dari sebelumnya. Gak aneh, dengan kulit tebal, ukuran besar, dan tinggi sepatu yang di atas rata-rata, sepatu ini lumayan memberatkan ke dua kaki gue untuk melangkah.

Kini giliran mencoba Kings pada fungsi yang sesungguhnya. Ride My Bike.

Masuk gigi 1, rasa nyaman dan aman mulai menggelayut di hati. Senyum riang, hati senang, dan penuh kenang, menyelimut raga ini.

Tapi ini gak berlangsung lama. Bagian atas sepatu yang lumayan keras, mulai sering beradu dengan betis. Gesekan bertubi-tubi ini jelas bukan keadaan yang mengenakkan. Perlahan tapi pasti, betis gue mulai terasa ngilu. Kaki mulai gak nyaman sepanjang jalan. Rasa aman teredam gesekan yang sama sekali gak nikmat.

Perjalanan yang menyakitkan.

Gue jadi kangen sepatu Tomkins yang udah lama tergantung di rak sepatu. Tinggal menunggu waktu untuk gue lempar ke tong sampah, hanya karena bagian depan kiri mulai menganga. Kelelahan menerjang badai air, panas aspal, dan debu jalan selama 3 tahun.

Sepatu Kings gak layak dibandingkan dengan Tomkins. Yang pas di kaki, nyaman dipijak, dan rasa aman yang tak kalah hebat.

Pada pemakaian pertama, tak lebih dari 20 menit, spatu Kings sudah mengecewakan. Sux!

*bungkus Kings*

Storm Dengan OS 5

Posted November 21, 2009 by byonics
Categories: Gadgetory

Beredarnya versi leaked Operating System Blackberry versi 5, memang sudah lama terdengar. Dari beberapa forum blackberry, pasti dibahas tuntas keunggulan dan kelemahan dari versi leaked tersebut. Review dari pengguna langsung pun mudah kita temui. Berbagi pengalaman antar pengguna, bisa menjadi dasar, apakah kita akan menggunakan versi tersebut, atau tetap dengan versi yang sudah stabil di handheld kita.

Sebelumnya, saya kurang tertarik untuk mencoba OS versi 5 Storm. Banyak bug yang kurang pas saya dapatkan, hanya untuk mencoba OS baru. Sampai minggu lalu, saya masih bertahan di OS versi 4.7 Official.

Tapi pikiran ini sudah berubah. Tidak kurang dari seminggu yang lalu, situs ternama yang membahas ihwal BB -crackberry- mengabarkan keluarnya OS 5 versi leaked 5.0.0.328. Seperti biasa, saya mengikuti thread ‘finding and fixes’ untuk OS tersebut.

Dari sekian banyak member crackberry yang sudah mencoba, saya melihat lebih dari 90% menceritakan kekagumannya atas OS tersebut. Banyak sisi positif yang didapat, dibanding bug kecil yang dialami. Nah, mulailah saya berpikiran untuk mencoba merasakan dahsyatnya OS 5 besutan RIM ini. OS yang hanya ditanamkan pada device keluaran terakhir milik mereka.
Read the rest of this post »

Ciujung, Tujuh Tiga Puluh Pagi

Posted November 7, 2009 by byonics
Categories: BlogMe

Saya kurang tahu pasti apa yang menjadi latar belakang Ciujung dijadikan nama kereta listrik untuk jalur Serpong-Tanah Abang. Yang pasti, nama Ciujung menjadi penting, karena keberadaannya telah memberi warna tersendiri dalam kisah hidup saya. Kereta yang disebut dengan kelas ekonomi AC ini, sudah menjadi alat transportasi utama sehari-hari. Melepaskan identitas ‘biker’ yang pernah melekat selama beberapa tahun terakhir.

Dengan jarak rumah dan kantor yang tidak bisa dibilang dekat, saya nyaris ‘tobat’ dari dunia roda dua sebagai transportasi andalan. Pinggang pegal, tangan ngilu, stress macet, dan sumpah serapah kepada pengendara angkot, mulai saya lupakan. Sekitaran bulan Maret 2009, saya melirik transportasi publik yang berjalan di rel. Mencoba beberapa kereta dan beberapa jadwal, akhirnya saya konsisten di KRL Ciujung pagi yang berangkat pukul 07.30, dari stasiun Sudimara. Pulangnya, masih bervariasi. Tergantung selesainya pekerjaan kantor. Namun, rata-rata masih sering menggunakan Ciujung malam.
Read the rest of this post »


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.